Webinar Teknologi UAV dan Satelit di Era 4.0 yang Diselenggarakan Lab APTRG

Bandung, Students Tel-U – Pada hari Sabtu, 19 Desember 2020, Lab APTRG mengadakan webinar dengan judul “ Teknologi UAV dan Satelit di era 4.0”. Webinar dimulai pada pukul 13.00 WIB melalui media zoom meeting. Webinar ini membahas mengenai pengantar teknologi UAV dan satelit di Indonesia yang diikuti oleh mahasiswa Telkom University dari berbagai jurusan.

MC pada webinar ini adalah Rafi Mahrus dan moderatornya adalah Saifur Rahman. Acara dibuka dengan salam pembuka yang dibawakan oleh MC, lalu dilanjutkan dengan doa dan sambutan oleh Kapten Lab APTRG yaitu Faishal Daffa dari jurusan Teknik Telekomunikasi. Selanjutnya perkenalan mengenai pembicara yang disampaikan oleh moderator lalu dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara yaitu Bang Nurmajid Setyasaputra.

Bang Nurmajid selaku pembicara pada webinar bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional) sebagai IT dan Utility Engineer yaitu mengkoordinasikan seluruh kegiatan IT dan Sistem Informasi, jaringan intranet dan internet, maintenance perangkat data center dan DRC, seta supporting peralatan pendukung stasiun bumi penginderaan jauh.

Adapun pengalaman:

  • Acquisition Engineer, Maintenance Engineer, IT & Utility Engineer di Indonesian Nasional Institute of Aeronatics and Space (LAPAN) bekerja dari tahun 2013 – sekarang. Di kota pare – pare, Sulawesi selatan
  • CEO and Supervison dari APTRG = Merupakan founder dari Lab APTRG
  • Researcher Internship Bandung Techno Park
  • RSPL Design Engineer IT Telkom Satellite Society
  • Supervision and Assistant Microprocessor and Interfacing Laboratory (Lab UPCI)

Jenjang Pendidikan:

  • S1 di Institut Teknologi dengan jurusan Telecommunication Engineering Telkom yang sekarang dikenal dengan Telkom University tahun 2008 -2013. Aktif pada Microprocessor and Interfacing Laboratory (Lab UPCI), Aeromodelling and Payload Telemetry research Group (Lab APTRG), Nano Satellite Research Group, Radio Amatir Club dan Sentra Kegiatan Islam
  • S2 di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil jurusan information Technology Project Management

Pertama kali Lab APTRG mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh ITB, dan mengikuti kategori umum dan mahasiswa. Dan ini lomba ini juga merupakan kemenangan pertama dari Lab APTRG.

 

Bang Nurmajid sekarang bekerja di Stasiun Bumi Pare – Pare di  LAPAN.

 

Kenapa ada stasiun bumi di pare – pare?

Hal ini karena hampir di tengah Indonesia atau 97% wilayah Indonesia tercakup sedangkan lingkungan yang mendukung bebas pandang dan bebas sinyal gangguan. Jadi berkaitan dengan komunikasi nirkabel harus mencari tempat yang bebas interference. Jadi karena ada yang belum tercakup maka dibangun stasiun bumi rumpin yang terletak di Bogor. Tugasnya hampir sama yaitu untuk merekam citra satelit penginderaan jauh.

Fasilitasnya ada beberapa antena yaitu Antena Orbital (resolusi Rendah), Antena Viasat ( Resolusi Menengah dan Tinggi), Antena Zodiac (Resolusi Menengah dan Tinggi), Antena Seaspace dan Antena NEC. Dan ada beberapa Gedung juga yaitu Gedung Lahta dan Pelayanan Pengguna, Stasiun Bumi, Gedung Aula, dan Gedung Diklat.

Pada fasilitas antena, antenanya pada frekuensi X-Band di 8GHz keatas. Antena yang aktif sekarang ada 3 yaitu Antena Orbital (resolusi Rendah), Antena Viasat ( Resolusi Menengah dan Tinggi), Antena Zodiac (Resolusi Menengah dan Tinggi).

Data Center merupakan tempat untuk menerima, mengelola, menyimpan dan mendistribusikan data dari satelit. Terdapat ruang operator untuk penerimaan, kemudian ada media penyimpanan baik offline dan juga online. Dan juga yang tidak kalah penting adalah Electrical karena semuanya tidak akan berjalan tanpa electrical ditambah bantuan backup baterai dan juga genset.

Adapun jenis sensor nya yaitu:

  • Sensor Aktif = mengirimkan sinyal ke bumi kemudian dipantulkan Kembali, maka hasilnya akan terliat bebas dari awan. Menghasilkan gambar yang tidak berwarna.
  • Sensor Pasif = sensor ini menerima data atau pantulan cahaya dari sinar matahari yang diteruskan ke bumi. Oleh karena itu, apa yang terlihat nanti adalah yang sebenarnya. Jadi ada wilayah daratan dan juga awan. Menghasilkan gambar yang berwarna.

Sistem Pengideraan Jauh

Pada multispektreal ada beberapa band sedangkan untuk yang hyperspektreal memiliki banyak band. Untuk cara pengambilannya ada yang analog itu secara langsung seperti photograph/kamera. Kemudian untuk yang lainnya menggunakan beberapa band dan untuk citranya dapat diambil entah itu per pixel, per area, per baris atau scanning.

4 Konsep resolusi dalam data penginderaan jauh:

  • Spacial : ukuran objek terkecil yang masih dapat disajikan dibedakan dan dikenali pada citra.
  • Spektral : kemampuan suatu sistem optik elektrik untuk membedakan objek berdasarkan pantulan atau  pancaran spektralnya. Berdasarkan spektrum cahaya seperti blue, green dan red. Semakin banyak spektrum cahayanya maka dapat dikolaborasikan untuk mendapatkan informasi tertentu.
  • Radiometrik : kemampuan sensor dalam mencatat respon spectral objek dan merubahnya menjadi sistem coding. Berdasarkan bit nya 1 bit – 16 bit.
  • Temporal : periode satelit untuk merekanm suatu weilayah dalam periode tertentu

Citra yang dihasilkan dapat kita implementasi  yaitu pada penggunaan lahan contohnya lahan mangrove, pada tempat pertambangan, untuk keamanan khususnya monitor wilayah perbatasan, untuk perikanan, monitoring perkebunan contohnya pada perkebunan sawit, monitor tempat kebakaran hutan, monitor pada bencana untuk melihat seluas apa kerusakan yang diakibatkan oleh bencana tersebut, monitor pembangunan infrastruktur.

Adapun beberapa pertanyaan beserta jawabannya yang disampaikan saat sesi tanya jawab:

1. Apakah setiap satelit memiliki fungi dan tujuan yang sama?

Satelit adalah benda yang mengelilingi bumi. Ada satelit alami dan buatan. Satelit buatan memiliki fungsi yang beraneka ragam salah satunya berfungsi untuk penginderaan jarak jauh ada juga untuk sebagai teleskop/pemantauan luar angkasa. Jadi tergantung satelit itu diungsikan untuk apa. Jadi satelit dibuat hanya untuk mengelilingi bumi saja. Jadi yang penting adalah sensornya, apa yang kita akan kita buat dari wahana apakah kita ingin memonitoring sesuatu, memantau sesuatu atau kita hanya ingin mengambil data seperti suhu dan cuaca.Jadi itu tergantung dengan tujuan dibangunnya. Untuk satelit costnya cukup sangat mahal oleh karena itu banyak sensor yang ditumpangkan di satelit tersebut. Contohnya pada satelit LAPAN ada satelit orari sebagai satelit komunikasi, amatir radio, pemantauan bumi. Jadi bisa dimasukkan macam – macam.

 

2. Untuk penginderaan jarak jauh sebuah gunung menggunakan apa?

Sebenarnya dalam penginderaan jarak jauh semuanya dipantau, hanya saja untuk satelit – satelit dengan resolusi tinggi karena berbayar maka kita hanya merekam apa yang direncanaan. Tapi untuk bencana kita bisa minta dengan prioritas yang urgent.

 

3. Satelit itu ada umur penggunaannnya, rata – rata masa umur satelit berapa ya?

Jadi untuk trend sekarang itu satelit  rata – rata dibuat untuk lima tahun, tapi jika dalam 5 tahun masih tetap berfungsi dengan baik maka akan tetap diorbitkan . Tapi untuk sateli yang lama yang sejak tahun 90-an. Contohnya satelit modis yang sejak tahun 1999, itu masih tetap dipakai sampai sekarang.

 

4. Apakah Lab APTRG bekerja sama dengan Lab Nano Satelit?

Bahwasannya jika kita memiliki ilmu yang tinggi, jangan pernah merasa sombong. Kita harus tetap menghargai bahwasannya ilmu itu tidak untuk diri kita sendiri tapi juga untuk orang lain. Jadi bekerja sama baik dengan Lab lain merupakan salah satu misi dari Lab APTRG. Yang namanya penelitian itu bisa saling berkolaborasi. Jadi Lab APTRG dan Lab Nano Satelit saling membantu.

 

5. Apakah LAPAN itu sudah berfokus untuk pencarian kehidupan diluar bumi sama pencarian objek – objek luar angkasa seperti planet, bintang dan sebagainya ?

Sekarang LAPAN sedang mengeksplor apa yang ada di luar angkasa sebagai backup. Untuk pencarian kehidupan itu hanya Sebagian kecil dari monitor atau benda – benda yang ada di luar angkasa.

 

6. Apakah mungkin untuk penginderaan jarak jauh dikombinasikan dengan UAV untuk mencari korban bencana alam ?

Untuk monitoring bencana bisa. Tapi untuk korban masih memungkinkan, tapi kita harus melihat batasan dari penginderaan jarak jauh. Tapi untuk di UAV mungkin saja bisa.

 

7. Izin bertanya, baru – baru ini LAPAN kan mengadakan uji coba roket  yang mana digunakan untuk mendapatkan data kinerja pengoptimalisasian produk. Nah, yang jadi pertanyaan adalah sebenarnya sebesar apa sih potensi perkembangan roket/satelit di Indonesia?

Ya, LAPAN sedang mengembangkan roket dari cukup lama. Ukurannya semakin lama – semakin besar sebenarnya misi utamanya adalah kita sudah punya satelit, tapi kita belum punya media untuk peluncuran satelit. Maka dilakukan pengujian – pengujian data karena teknologi roket ini adalah teknologi yang hampir dirahasiakan di seluruh dunia. Jadi bisa juga sebagai sarana penelitian dan bisa juga sebagai sarana bisnis contohnya untuk memiliki satelit itu memiliki cost yang sangat besar. Jika suatu negara memiliki peluncur satelit maka akan banyak orang yang akan meminta untuk satelitnya untuk diluncurkan dari badan antariksanya. Jadi itu yang sedang LAPAN inginkan yaitu membangun badan antariksa.

 

8. Apakah di LAPAN ada teleskop radio dan apakah ada kompetisi untuk teleskop radio tersebut mungkin dengan teleskop radio kita bisa mendapatkan sinyal – sinyal dari luar angkasa?

Untuk teleskop sendiri saya tidak terlalu mendalaminya. Tapi setau saya itu yang sedang dibangun adlaah teleskop optis, mungkin yang radio bisa menjadi alternatif lain untuk menganalisa yang ada di antariksa.

 

Jadi kesimpulannya teknologi UAV dan satelit ini sangat bermanfaat sekali seperti UAV dapat digunakan untuk pemetaan jarak jauh, monitoring jarak jauh tanpa melibatkan manusia dan juga dapat meminimalisasi biaya dan kecelakaan pada saat bekerja. Tadi juga disampaikan bahwa kita dapat melakukan penginderaan jarak jauh dengan menggunakan banyak sekali peralatan – peralatan seperti 4 konsep pada penginderaan jarak jauh. Kita juga dapat melakukan pemetaan dalam dunia perikanan, agrikultur dan peternakan. Selain itu, kita juga daapt memonitor terjadinya bencana alam. Teknologi ini dapat juga memonitoring iklim cuaca baik di Indonesia bahkan di dunia.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan rekruitasi Lab APTRG, tetapi acara ini juga terbuka untuk umum. Jadi bagi teman – teman yang mengikuti webinar ini dari jurusan apapun sekiranya setelah mengikuti webinar ini dan berminat pada bidang aeromodelling and payload telemetry bisa banget untuk bergabung di Lab APTRG. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di Instagram : @aptrg , Line : @sqs3444b. (pri)

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *