Tangan Kreatif Seniman Jalanan Solo

Bandung, Students Tel-U-Apa sih yang kalian ketahui tentang Mural? Yang kita ketahui mungkin mural itu hanya seni mencorat-coret tembok jalan dan toko dengan gambar yang mungkin berisikan perkataan dari penulisnya atau bahkan hanya gambar-gambar iseng saja.

Tapi tidak bagi seorang Dika atau biasa dipanggil Rabt, mahasiswa program studi Seni Rupa dan Desain dari ISI Solo. Menurutnya mural adalah sebuah gambar atau lukisan pada media dinding atau tembok yang bersifat permanen, bertema mengkritik menyampaikan pesan atau hanya sekedar memperindah dinding-dinding jalan.

Source by Instagram of dika_rabt

“Aku itu selain menggambar dijalan, aku juga melukis. Terkadang dalam melukis aku merasakan ketidakpuasan dalam hal media, maka dari itu aku mencoba bereksperimen dengan mencoba melukis di media yang lebih besar yaitu dengan cara aku mural di dinding atau tembok. Kalau mural-muralku sendiri aku tidak membawa unsur-unsur kritikan. Aku lebih suka merespon tembok yang kumuh untuk diperindah dengan cara di gambar,” tutur Dika.

“Jadi aku mural lebih ke eksperimen dari karya lukisku. Karena karya lukis kebanyakan hanya dapat dilihat di galeri-galeri atau pameran, namun aku juga menghadirkan karya-karya dijalan untuk masyarakat entah hanya sekedar dibuat mereka berfoto-foto atau hanya untuk memperindah dinding jalanan.”, tambahnya lagi.

Source by Instagram of dika_rabt

Banyak dari kita yang melihat dengan sebelah mata bahwa mural itu apa sih? Hanya bisa mengotori tembok jalanan. Padahal jika kita mau mengapresiasi sebuah seni pasti kita akan mampu melihat keindahan daripada seni itu sendiri. Tidak sedikit diantara kita yang mengucilkan para seniman jalanan ini. Kadang kita mengusir saat mereka sedang berkarya, menghina, bahkan tidak jarang juga mereka harus merasakan kucing-kucingan dengan keamanan sekitar. Emosi yang mereka luapkan kedalam bentuk karya itu jauh lebih baik daripada mereka luapkan dengan terjun kedunia malam, narkoba, free sex, atau bahkan berbuat kejahatan.

“Saat-saat kaya gitu juga ada, saat kesel atau emosi ingin menyampaikan pesan-pesan lewat dinding, tetapi jarang lah kaya gitu.”, ujar Dika atau biasa dipanggil Rabt.

Kebebasan untuk berpendapat semakin dibatasi karna semakin banyak pula masyarakat yang sensitif saat mendengar kata yang menurutnya tidak baik padahal kita belum tahu pasti apa maksudnya dan untuk siapa itu ditujukan. Tapi seni yang menjadi pelampiasan dari semua itu. Entah seni musik, tari, lukis, menulis, dan akting menjadi pelampiasan yang tidak tahu menahu tentang kekesalan hati yang tidak dapat tersalurkan dengan lantang.

Source by Instagram of dika_rabt

Apakah kita akan terus membatasi kemampuan orang lain dalam berekspresi? Apakah kita akan terus bungkam saat melihat orang lain tertindas? Pikirkan itu! (DML)

Keyword(s) : , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *