[ Students Journalism ] Tahukah Kamu? Musik Bisa Jadi Media Bantu Pembelajaran 

MUSIK SEBAGAI MEDIA BANTU PEMBELAJARAN

Oleh    : Yohana Ruth Yohefina / FEB / MBTI

Musik adalah salah satu media hiburan yang dikenal oleh masyarakat luas, baik untuk mengapresiasi maupun berbagi bakat, ide dan inspirasi yang dimiliki seseorang kepada yang lainnya. Namun, musik sebenarnya dapat menjadi media bantu pembelajaran hanya saja pemilihannya harus tepat antara jenis musik dengan materi pembelajaran. Ini dapat dimafaatkan khususnya pelajar dan mahasiswa untuk membantu mereka dalam proses belajar.

Musik adalah waktu yang memang untuk didengar. Musik merupakan wujud waktu yang hidup, yang merupakan kumpulan ilusi dan alunan suara. Alunan musik yang berisi rangkaian nada yang berjiwa akan mampu menggerakkan hati para pendengarnya (Sylado, 1983 : 12). Musik dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual manusia yang terletak pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan.

Penelitian yang dilakukan oleh George Lozanov di Universitas California, Irvie, dimana beberapa mahasiswa mendengar musik Mozart sebelum mendapatkan tes. Hasilnya, mereka mendapat nilai 8 sampai 9 poin lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang hanya mendengarkan pesan relaksasi verbal.

Menurut Dr. Lozanov, saat seseorang sedang belajar atau mengerjakan tes dengan keadaan tanpa musik, maka denyut nadi dan tekanan darahnya akan meningkat. Ini menyebabkan sulitnya menerima pelajaran dan materi tidak tersimpan dalam longtherm memory.Saat musik diputar, maka keadaan santai akan tercipta. Dengan ini, denyut nadi serta tekanan darah akan kembali normal, membuat pelajaran diterima dengan mudah dan masuk ke dalam longtherm memory karena melambatnya gelombang pada otak.

Musik dikategorikan dalam beberapa jenis, salah satu yang membedakannya adalah berapa ketukan per menit dan bagaimana pola irama yang terdapat dalam suatu musik tersebut. Untuk media bantu belajar, Dr. Lozanov menyatakan jenis musik barok seperti Bach, Handel, Pachelbel, dan Vivaldi adalah yang paling tepat. Alasannya karena musik ini memiliki ketukan-ketukan yang khas dan pola-pola yang secara otomatis menyinkronkan tubuh dan pikiran.

Hasil penilitian lain juga membuktikan hal yang serupa, dimana Dr. Emma Gray beserta Spotify, sebuah perusahaan layanan musik digital melakukan penelitian kepada siswa yang belajar sambil mendengarkan musik. Namun perbedaannya, dalam penelitian ini melibatkan berbagai jenis musik seperti klasik dan pop dan diuji dengan beberapa mata pelajaran yang berbeda.

Untuk pelajaran IPA, IPS dan Bahasa, dibutuhkan musik dengan 50-80 ketukan per menit dengan alunan lembut seperi lagu Halo milik Beyonce. Ini membantu siswa berpikir logis dan mudah mendapat fakta baru. Kemudian untuk pelajaran Matematika, dibutuhkan lagu klasik yang memang memiliki irama 60-70 ketukan per menit. Selanjutnya untuk pelajaran kesenian, dibutuhkan musik pop dan rock yang mampu meningkatkan emosi rasa senang dan kemampuan artistik, seperti lagu Firework milik Katy Perry.

Saat seseorang sedang melakukan proses edukasi maka otak kiri bekerja lebih banyak dibandingkan otak kanan yang cenderung pasif. Hal ini berlaku sebaliknya saat sedang melakukan proses artistik. Sebenarnya hasil optimal dalam mengerjakan 2 aktivitas tersebut akan didapat maksimal jika orang tersebut mampu menyeimbangkan kinerja otak kiri dan kanannya.

Albert Einstein merupakan seorang ilmuwan yang jenius, dan dalam riwayatnya ditemukan fakta, saat ia membuat asumsi alam semesta berbentuk lengkung dan berbatas, ia menggunakan imajinasinya, dimana saat mengikuti sinar matahari, Einstein akan kembali ke tempat semula ia berjalan. Sebelumnya ia beranggapan bahwa alam semesta itu lurus, namun saat imajinasi menuntun Einstein menemukan fakta tersebut, logika membantunya berpikir tentang asumsi baru.

Ludwig van Beethoven juga merupakan musisi jenius yang terkenal memiliki ekspresi seni yang tinggi. Namun saat kita melihat karakteristik musiknya, ia menuliskan musik dalam baris dan urutan yang berlandaskan angka-angka seperti dalam Matematika. Selain itu rime musik yang ia buat juga sangat teliti dan cermat. Ini membuktikan Beethoven juga melandasi imajinasinya dengan logika hitungan yang tinggi, membuat karyanya menjadi tepat.

Ini adalah dua contoh orang yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan emosionalnya. Imajinasi dan logika yang mereka miliki saling membantu dalam memecahkan sebuah masalah. Musik adalah salah satu media imajinasi yang dapat membantu seseorang saat logikanya sedang bekerja. Maka dari itu, pelajar dan mahasiswa membutuhkan musik untuk membantu dalam menyeimbangkan kinerja otak serta membuat informasi yang diserap juga bertahan lama. Namun diperlukan pemilihan lagu yang tepat sesuai dengan materi apa yang ingin kita pelajari sehingga hasil belajar dapat lebih optimal.

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *