[Students Journalism] Harapan setelah “Pesta Demokrasi”

Harapan setelah “Pesta Demokrasi”

Oleh : Thoriq Anugrah F. P. / MBTI / FEB

 Sejak terjadinya masa reformasi, rakyat Indonesia sudah mengalami beberapa kali pemilihan umum (pemilu). Dimulai dari pemilu kepala daerah (pilkada), pemilu legislatif (pileg), hingga pemilu presiden-wakil presiden (pilpres).selama pelaksanaannya alhamdulillah pemilu-pemilu tersebut relatif berjalan tertib, aman, dan damai. Sehingga konon membuat negara-negara lain, termasuk yang sudah mapan demokrasinya, berdejak kagum akan sistem demokrasi yang terjadi di negara Indonesia ini.

Sejak masing-masing calon melakukan penjajakan dan pendekatan terhadap pasangannya hingga pencalonan ditetapkan KPU, suasana politik benar-benar merupakan ”pesta demokrasi” yang luar biasa gegap gempitanya. ”Pesta Demokrasi” yang dahsyat kali ini melibatkan hampir seluruh elemen dan lapisan masyarakat dari berbagai etnis dan agama. Melibatkan semua kalangan mulai yang paling elite hingga yang paling awam. Mulai politisi yang paham politik hingga politikus yang baru belajar politik. Bahkan termasuk mereka yang selama ini mencitrakan diri sebagai yang ”antipolitik”.

Rakyat Indonesia berharap, pemilu tahun ini bisa menghasilkan pemimpin yang bersaih dan benar-benar bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Namun tidak sedikit juga masyarakat yang apatis terhadap politik, dan sama sekali tidak mempedulikan siapa yang akan bertarung dalam pemilihan presiden (pilpres) nanti.  Mereka beranggapan hidup dan kesejahteraan rakyat ditentukan oleh rakyat itu sendiri, bukan oleh pemimpin negeri dan elite politik.

Kenyataannya, pada waktu pelaksanaan pilpres 9 Juli lalu, partisipasi masyarakat pun luar biasa. Persentase pemilih naik dari pemilu-pemilu sebelumnya. Antusiasme dan gairah masyarakat yang sedemikian besar, dari satu sisi, dapat diartikan sebagai kesadaran dan kepedulian terhadap tanah air serta masa depan bangsa dan negara.

Namun, dari sisi lain, saya melihat ”semangat” yang sejak awal dikobarkan melebihi takaran itu lebih dipicu fanatisme pendukungan. Sikap berlebihan dari semua pihak, terutama pendukung dan relawan, menunjukkan hal itu. Sikap berlebihan yang sudah sampai menghilangkan nalar sehat dan menghalalkan segala cara. Para petinggi yang selama ini selalu mengagung-agungkan nilai-nilai luhur seperti Pancasila banyak yang seolah-olah lupa akan sila-silanya.

Setelah pengumuman KPU 22 Juli kemarin diharapkan semua sudah kembali dapat berpikir jernih dan menyadari bahwa setelah usaha dan perjuangan memenangkan calon Presiden dan Wakil Presiden pilihannya pada akhirnya Tuhan, Allah Yang Maha Esa, juga yang menentukan. Sehingga apa pun keputusan yang disampaikan oleh KPU, semuanya bisa menerima dengan lapang dada dan jiwa kesatria.

Untuk itu dan untuk kepentingan kita bersama, termasuk para capres-cawapres sendiri, kiranya dapat mengondisikan hal tersebut. Dengan mengupayakan kembalinya ukhuwah dan persaudaraan di antara anak bangsa serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah saatnya kita kembali untuk mengamalkan sila ke 3 dalam Pancasila yang berbunyi Persatuan Indonesia.

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *