Review Film “THE PERKS OF BEING A WALLFLOWER”, Beratnya Menjadi Seorang Remaja

Bandung, Students TEL U – Bagi sebagian dari kita, masa remaja memang menjadi masa yang indah di mana kita mendapat banyak pengalaman, mendapat banyak teman yang selalu mendukung, menemukan cinta sejati kita dan lain-lain. Namun tidak bagi seorang Charlie. Baginya masa remaja adalah masa-masa yang sangat berat. Dia harus mengalami depresi akibat dari masa lalu buruknya yang selalu menghantui. Ada sekitar 1385 hari yang harus dia lalui untuk terbebas dari depresi masa remajanya yang sangat menyiksa.

Charlie adalah seorang remaja introvert yang selalu canggung dan kikuk dalam berbagai situasi dan suasana. Masa lalunya yang pedih membuat dia semakin tertutup. Dan sialnya, di sekolah pun ia kerap di-bully oleh teman-temannya. Charlie selalu mencurahkan apa yang ada di pikiran dan hatinya untuk seorang teman anonimnya. Sampai pada saat di mana ia menemukan sebuah kelompok pertemanan yang setidaknya dapat membantunya menghadapi setiap permasalahan yang menghalanginya. Teman-temannya yang semua adalah seniornya membuat Charlie merasa dianggap. Mereka adalah Patrick, Sam, Mary Elizabeth, Alice, dan Bob. Selain teman-teman seniornya, salah seorang gurunya yaitu guru bahasa Inggris bernama Mr. Anderson memiliki peran penting dalam hidupnya.

Kata  ” Wallflower ” sendiri berasal dari keadaan di mana si penyendiri itu selalu “ mojok ” dekat tembok ketika menghadiri sebuah acara terutama pesta. Charlie adalah seorang wallflower. Ia tak ingin berpartisipasi dalam segala hal, termasuk dalam kelas. Walaupun ia telah mengetahui jawaban yang dilemparkan gurunya, ia tak ingin mengangkat tangan untuk menjawab, ia lebih memilih menuliskan jawabannya di bukunya. Nampaknya Mr. Anderson selaku guru bahasa inggrisnya menyadarinya dan memiliki caranya tersendiri untuk mendukung Charlie yang ternyata memiliki bakat dalam menulis.

Ke-wallflower-an Charlie pun sedikit demi sedikit hilang berkat dari bantuan dari teman-temannya. Sam dan Patrick yang selalu membantu dan mendukung Charlie. Charlie merasa senang mempunyai teman baru, ia ingin memberi impresi baik dengan mentraktir mereka berdua sepulang menonton. Namun nampaknya teman-teman Charlie tidak seperti seorang teman yang memiliki pamrih, melainkan tulus menerima Charlie sebagai teman.

Selain menyoroti masalah kejiwaan Charlie, film ini juga menyoroti kisah cinta Charlie, Sam, dan teman Sam di mana kisah cinta yang terjadi adalah cinta segitiga, kisah klasik anak SMA. Charlie dan Sam yang berangkat dari latar belakang yang kelam di masa lalunya ingin membuka lembaran baru bersama dengan saling mencintai dan menerima kekurangan mereka.

Charlie sangat beruntung karena dia dikelilingi oleh keluarga yang sangat suportif dan mendukung Charlie dengan apapun kondisi Charlie. Dan tentu saja Charlie juga beruntung karena memiliki teman -teman yang selalu menerimanya dengan hangat. Untuk itu Charlie tidak segan untuk membantu Sam menaikkan nilai SAT-nya untuk masuk ke Universitas ternama.

Nampaknya film ini sangat relate dengan banyak kisah remaja di luar sana yang harus melalui masa remaja mereka dengan berat. Dijauhi teman sampai di-bully habis – habisan. Dan juga banyak pelajaran yang dapat diambil dari film ini seperti halnya kesetiakawanan, ketulusan, rendah hati, dan cinta.

Bagi kita yang merasa melalui hari – hari dengan berat, ada baiknya menonton film ini. Sehingga dapat mengerti dan bersyukur mengenai apapun keadaan yang kita miliki. Dan dengan optimis melangkah menapaki jalan dan meraih tujuan kita.

“So, I guess we are who we are for a lot of reasons. And maybe we’ll never know most of them. But even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them.”(SDA)

 

Keyword(s) : , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *