Pintu Darurat Asrama, Berguna atau Sekadar Pajangan Belaka?

Bandung, Students Tel-U – Pada Jumat (15/12) pukul 23:47 WIB terjadi gempa bumi yang berpusat di Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 SR menurut BMKG. Akibat dari bencana alam yang terjadi kala itu menyebabkan terguncangnya di beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti Yogyakarta, Jakarta, bahkan Bandung.

Kejadian tersebut membuat beberapa warga panik dengan kekuatan gempa yang cukup besar. Hal ini membuat salah satu penghuni asrama putri Gedung D Telkom University yang memecahkan kaca pintu demi menyelamatkan semua penghuni yang kemudian divideokan oleh salah satu penghuni juga dan akhirnya banyak diperbincangkan mahasiswa Telkom Univerisity lainnya di media sosial.

“Saya menyadari akan kejadian gempa itu dari teman saya, kemudian semua orang berteriak panik. Makin kencang orang-orang berteriak membuat saya kepikiran untuk memecahkan kaca pintu, namun saya berpikir juga dengan resikonya. Sampai saat gempa berguncang semakin kencang, akhirnya saya mengambil satu benda dan mulai memecahkan kaca pintu tersebut,” ungkap Nabila Octavia sebagai pelaku yang memecahkan kaca pintu di gedung asrama tempat ia tinggal.

Nabila memecahkan kaca pintu karena ia tidak ingin ada kejadian yang tidak diinginkan, seperti kehilangan nyawa. “Saya memikirkan teman-teman saya nantinya akan seperti apa, yang paniknya sama seperti saya, karena pintu darurat menurut saya tidak berguna karena dikunci,” tambahnya.

Menurut senior residence yang bertanggung jawab atas gedung tersebut, Nenden Rima Humairoh menjelaskan bahwa setelah kejadian tersebut, semua penghuni aman. “Satpam langsung bertindak kok, dengan membukakan pintu dan mengeluarkan semua anak. Pokoknya semuanya aman,” jelasnya. Namun, mahasiswa S1 Akuntansi 2015 tersebut menambahkan pula jika pintu darurat di gedung asrama terkait belum berfungsi sempurna, sebab semua kunci untuk tiap gedung asrama dipegang oleh satpam yang berjaga, termasuk kunci pintu darurat.

Dicky, pihak dari Telkom Property yang bertanggung jawab atas pengelolaan gedung asrama, mengatakan bahwa kunci darurat yang terdapat di setiap lantai dalam tiap gedung asrama memang tidak bisa sembarang untuk dibuka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kaburnya mahasiswa/i saat jam malam berlangsung. Jika disimpan oleh senior residence pun tidak akan efektif karena posisi senior residence tidak ada pada setiap lantai, bahkan terkadang belum ada di posisi gedung asrama. Oleh sebab itu pihak keamanan yang berjaga berhak untuk memegang kunci darurat untuk setiap gedung. Namun, berdasarkan rundingan antara pengelola asrama dengan Badan Kemahasiswaan akan mencanangkan inovasi untuk pintu darurat. “Kami akan membuat kotak di pintu darurat depan dan belakang di setiap lantai untuk menaruh kuncinya. Jadi, mahasiswa bisa membuka pintunya dengan memecahkan kotak tersebut,” jelasnya.

Melihat Telkom University mempunyai 18 gedung asrama dengan empat lantai untuk setiap gedungnya, perlu diadakannya simulasi tanggap bencana. Namun sayangnya, sesuai pengakuan Dicky bahwa dalam sejarah pihak asrama baru saja sekali mengadakan simulasi tanggap bencana mengenai kebakaran. “Kami bersama Badan Kemahasiswaan sudah merencanakan untuk mengadakan simulasi bencana kembali setiap tahun, mengingat penghuni asrama setiap tahun berganti,” tuturnya.

Selain penyimpanan kunci darurat yang terinovasi dan pengadaan kembali simulasi bencana, rencana pengelola bersama yang telah dirundingkan bersama Badan Kemahasiswaan adalah dengan membuat Standar Operational Procedure (SOP) dan menyediakan kapak sebagai pemecah kaca yang masing-masing diletakan di lantai 1 dekat hydrant. 

Semoga rencana Badan Kemahasiswaan diikuti oleh pengelola setiap gedung asrama bukan sekadar rencana, melainkan bisa membangun kesadaran pula untuk para penghuni asrama untuk peduli tanggap bencana dengan mengikuti simulasi bencana dan menggunakan fasilitas yang telah disebutkan. (kas/fhr)

Keyword(s) : , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *