Pengertian Passion Menurut Pevita, Keenan, dan Prabu Revolusi

Bandung, Students Tel-U –  Hari ini Prabu Revolusi, Keenan dan Pevita Pearce datang ke Telkom University.

Ketiganya menjadi pembicara dalam acara seminar XPRESS 2014 yang digawangi oleh panitia dari HIMA MBTI.

image

Acara yang mengambil tema : Inspiring People. Inspiring Indonesian Youth to Success ini berlangsung di Aula FEB gedung C Universitas Telkom.

Menurut Prabu Revolusi semua orang punya potensi menjadi besar. Passion adalah sesuatu yang seiring berjalannya waktu kita akan menemukkannya. Prabu kemudian menekankan : “Saya Harus Hidup Dengan Passion. You Will be Happier.”

“Dulu saya S1 di Teknik Fisika, S2 saya ada di Sistem Kontrol. Selama 6 tahun saya sampai 7 kali gonta-ganti pekerjaan. Sampai akhirnya, saya menemukan kenyamanan di jurnalistik. 2008 saya ditawari masuk TransTV jadi presenter reportase sore. Lalu 2009 saya pindah ke MetroTV. Sehingga saya lebih dikenal sebagai Jurnalis hingga sekarang.”

Menurut Keenan Pearce, pada saat karakter kita terbentuk, kita punya tujuan maka passion itu akan ada dengan sendirinya.

Saat ditanya mengenai cara keluar dari comfort zone Keenan mengakui hal tersebut memang tidak mudah. Tapi itu bisa diraih dengan mindset : bahwa keluar dari comfort zone adalah untuk sesuatu yang lebih baik.

“Keluar dari comfort zone adalah soal tantangan menyikapi masalah. Kita kita menghadapi suatu masalah, kita cenderung fokus pada masalahnya. Coba ambil sudut pandang lain.”, bebernya kemudian.

Saat ditanya mengenai masa depan industri kreatif Keenan mengungkapkan Creativity adalah industri yang intangible menurut saya. Maka, menurut saya industri yang akan stabil pada saat terjadi financial crisis.

Saat mendapat pertanyaan yang sama, menurut Pevita Pearce passion adalah sesuatu yang kita benar-benar inginkan. Kita bayangkan (seolah-olah) sudah meraihnya.

Pevita kemudian menekankan agar kiya semua tidak membohongi diri sendiri. Lakukanlah sesuatu yang disukai dengan sungguh-sungguh dan (kalau bisa) dibayar.

“Semenjak saya usia 10 tahun saya sudah mulai casting. Sudah membayangkan : Kayaknya asyik ya, bisa menang the best actress.”

Bahkan menurut Keenan, Pevita pernah suatu saat ada di kamar. Gelap sekali. Ketika Keenan buka pintu kamarnya, Pevita sedang berada di sudut ruangan.

“Pev, ngapain?”, kata Keenan sembari mengenang masa kecilnya.

“Ssst.. Pev lagi mendalami acting nih.”, Bisik Pevita tak lama kemudian.

“Tentu dalam memperjuangkan passion, kita bakal bertemu kegagalan. Dulu, saya berekspektasi akan menang di Festival Film Indonesia. Kalah. Kecewa, sampai pernah curhat ke mama. Tapi tanpa diduga saya justru mendapat anugrah di Festival Film Bandung. Dari situ saya belajar, boleh bermimpi tapi jangan berekspektasi terlalu tinggi.”

Saat ini, acara Xpress 2014 tersebut masih berlangsung.

Follow twitter penulis di @nando_nurhadi

Keyword(s) : ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *