Pemberontakan di Hari Kasih Sayang

Bandung, Students Tel-U — Jika berbicara tentang kaum muda dan 14 Februari, tentu tidak jauh dari valentine. Ya, perayaan dengan nama lain hari kasih sayang ini menjadi momen berbagi kebahagiaan terutama dan mengungkapkan perasaan di kalangan muda-mudi. Perayaan yang identik dengan segala pernak-pernik berwarna pink, bertukar hadiah, memberi coklat, dan hal-hal yang sangat lembut dan membekas di hati. Namun ketika berbicara tentang kaum muda dan 14 Februari ditarik mundur ke tahun 1945 tentu berbeda 180 derajat, sekumpulan pemuda yang tergabung dalam PETA di Blitar yang dipimpin oleh Shodancho Soeprijadi memberontak kepada Pemerintah Militer Pendudukan Jepang di Indonesia.

PETA atau Pembela Tanah Air adalah organisasi militer yang dibentuk Pemerintah Militer Pendudukan Jepang di Indonesia yang bertugas menjaga wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Sumatra dari serangan Sekutu ke wilayah ini pada Perang Pasifik.

Shodancho Soeprijadi, pemuda berumur 21 tahun sebagai pemimpin pemberontakan merupakan lulusan pertama dari pelatihan pasukan PETA di Bogor, ketika lulus mereka dikembalikan ke daerah asal yaitu Blitar. Shodancho sendiri merupakan penyebutan dari komandan peleton di PETA.

Inisiasi pemberontakan muncul ketika para romusha diperlakukan secara brutal dan tidak manusiawi di bawah Kekaisaran Jepang selama Pasifik. Mulai dari romushadipaksa bekerja membangun benteng pertahanan tanpa kenal waktu dan upah seperti budak, penyiksaan dan pelecehan kepada perempuan, dan pengambilan paksa hasil tani dari petani oleh Kekaisaran Jepang menyulut rasa marah dan prihatin dari Shodancho Soeprijadi. Ia dan beberapa rekannya merencanakan aksi untuk memberontak dan tanggal 14 Februari 1945 pukul 3 pagi terjadi pemberontakan dengan menembakkan mortir ke arah Hotel Sakura yang menjadi kediaman para Perwira Jepang dan menembaki Markas Kempetai dengan senapan mesin. Namun kedua tempat tersebut telah kosong, dikarenakan pihak Jepang telah mengetahui akan adanya aksi tersebut sebelumnya dan dalam waktu singkat Pihak Militer Jepang memadamkan aksi tersebut.

Walaupun gagal dalam aksinya, selanjutnya para lulusan PETA banyak berperan dalam usaha kemerdekaan hingga stabilnya kondisi Indonesia sesudah kemerdekaan. Inisiator aksi tersebut yaitu Soeprijadi diangkat menjadi Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia pertama, namun ia tidak pernah menduduki jabatan tersebut dan hilang secara misterius.

Kasih sayang dan pemberontakan mempunyai arti yang sangat berbeda dan berbanding terbalik. Berkaca kepada Peristiwa Pemberontakan PETA, ketika pemberontakan dengan maksud mengusir penjajah yang telah menyengsarakan rakyat diartikan sebagai bentuk cinta dan kasih sayang kepada rakyat oleh para pemimpin pemberontakan PETA. Kita bisa mengambil pelajaran bahwa bentuk kasih sayang bisa dalam bentuk yang sangat berbeda.

Keyword(s) : ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *