Nostalgia Alumni: Lika-Liku Ini Cuma Dipahami Mereka yang Pernah Kuliah di Gegerkalong

Sudah beberapa lama tak ada lagi aktivitas belajar mengajar tingkat S1 di Institut Manajemen Telkom kampus Gegerkalong.

Sekarang, gedung tersebut hanya di pakai untuk S1 kelas internasional dan S2.

Untuk jenjang S1 reguler, semuanya sekarang dipindah ke Dayeuh Kolot, bertransformasi menjadi Telkom University.

Kampus boleh pindah, status boleh berubah, tapi bagi saya… move on dari kenangan masa-masa di Gegerkalong jelas susah.

Kampus IM Telkom Gegerkalong | Sumber : https://viezme.files.wordpress.com/2010/12/img_0705.jpg

Hanya avatar yang bisa menguasai keempat elemen. Dan hanya mereka yang pernah merasakan hawa kampus Gegerkalong yang paham hal-hal berikut ini :

1. Awal-awal, Cari Kost di Picung, Gerlong, atau Cipedes

Namanya juga mahasiswa baru, jadi ya cari kost yang deket-deket kampus dulu.

Selain biar gak ribet sama transportasi, juga karena masih belum punya peta mana saja lokasi kost idaman.

Makanya kostan di Picung, Gerlong, dan Cipedes biasanya cepat keisi antara Juni-September.

Begitu udah agak lama, satu sampai dua semester, udah bisa cari kost sendiri. Jangkauannya melebar ke Sarijadi, Pondok Hijau (ada gitu yang kost di sini? Gue pernah), KPAD, Gerlong Girang, Sersan Bajuri (modus banget mau kecengin anak UPI), Ciwaruga (yang ini ketahuan lagi pedekatein anak Poltek Pos atau Polban), atau mungkin di Taman Sari (lelah ditolak anak kampus sendiri, lalu melebarkan sayap ke ITB).

Alternatif lain sih ngontrak. Tapi kadang makan hati kalau temen kontrakan malasnya minta ampun soal bebersih rumah. Mungkin dia lelah kak.

2. Teh Ninaaaaa, A Didiiii! Makan!

Sungguh berdosa jika tidak mengenal tempat makan satu ini. Warung Teh Nina jeung A Didi adalah legenda di antara yang legendaris. Nasi kornet, nasi gila, indomie goreng, you name it… kalian yang pernah makan di sana pasti punya menu favorit yang entah sudah berapa kali diulang.

WTNjAD (Warung Teh Nina jeung Aa Didi)  ini sudah bukan lagi tempat makan, tapi merembet jadi lokasi gosip teraktual, ajang diskusi tugas kuliah, menggunjing dosen, dan main kartu sampai malam. Once again, you name it!

“Teh Ninaaaaa!”
“Enyak, sakedap!” sabar aja lah ya nunggu pesenan datang.

Ada yang ingat siapa ini?
Sumber foto : Facebook nando nurhadi

3. Hafal Muka Anak Kampus

Ngebandingin ukuran kampus Gerlong sama ITB. UI, atau bahkan UGM? Kalian ngabodor kan? Nggak adil dan nggak lucu memang kalau banding-bandingin gitu.

Tapi kampus imut gitu ada untungnya lho. Setidaknya jadi bisa hafal muka rekan seperjuangan, baik senior maupun junior.

Yah, walaupun nggak kenal namanya sih. Tapi paling enggak pas ada reuni kampus bisa ngeh, “Oh itu si itu ya? Yang suka bareng sama si anu? Kok kece sekarang? Udah ada yang punya belum?”.

Kemudian modus operandi pun dimulai.

Suasana belajar di kelas IMTelkom Gerlong | Sumber : Facebook Bu Hani Machali

4. R6

Selain perpustakaan, inilah tempat yang paling sering dikunjungi Pejuang Skripsi.

Tak peduli pagi, siang, atau sore tempat ini selalu ramai. Entah itu nanyai tetek bengek, ngecek jadwal bimbingan sendiri ataupun gebetan, jadwal sidang, jadwal audiensi magang, nama dosen bimbingan yang tersedia, dan segala perkara tugas akhir lain.

Letaknya dekat pos satpam bagian selatan. Harusnya sih disebut ruang sekretariat, tapi nyebut R6 (er enam, bukan ar six) memang lebih nendang di lidah.

Sama seperti kasus istilah ngulek sambel yang lebih simpel ketimbang ngulek cabe, bawang, merica, ditambah sedikit garam dan gula.

5. Mau Olahraga Aja Ribet

Suka basket? Lari ke Enhaii. Sepak bola? Melipir ke lapangan KPAD atau UPI. Futsal? Seringnya sih pada ke Cipedes Bawah, bekas klub bulutangkis Mutiara. Ya mau gimana lagi, sebelum punya GOR pada 2011, anak-anak UKM olahraga terpaksa berusaha ekstra kalau mau latihan. Yang ada baru dinding panjat dan meja pingpong.

Di kompleks Telkom Learning Centre ada lapangan bulutangkis yang biasa dipakai anak bulutangkis. Ada juga lapangan tenis yang gak pernah dimanfaatkan sampai pertengahan 2011 oleh komunitas tenis kampus berisi segelintir pemain anyaran. Tapi kemudian komunitas tenis itu entah apa kabarnya.

Masjid Al-Murasalah di Komplek Telkom Learning Centre (TLC) | Sumber : Facebook Ngajaibul Asror.

6. Pasar Kecil di Kampus

Buat anak MBTI, ada mata kuliah Entrepreneurship yang mana mahasiswanya diwajibkan berdagang betulan. Ada yang jualan risoles, pisang coklat, tahu bakso, sushi, kaos, dorayaki, sampai penyewaan bus. Maka dulu di kampus selalu saja ada yang nawarin dagangan, nempel poster di mading, dan broadcast usaha mereka.

Paling asyiknya sih pas praktek akhir. Semua mahasiswa dikasih stand buat gelar dagangan. Hasilnya, lobi kampus ramainya gak ketulungan. Ada semacam pasar tumpah, padahal bulan puasa juga masih jauh. Seru lho lihatin perjuangan mereka biar dagangan mereka laris manis. Sekarang yang begini masih ada nggak ya di kampus?

7. Welcome!

Ada satu toko perabotan rumah tangga deket pertigaan ke Cipedes yang kalau masuk disambut suara bel, “Welcome”.

Menurut pengamatan, pada masa-masa awal perkuliahan, para maba cari perabotan kost di sin.

Yang punya toko sih gak ramah-ramah amat, tapi barangnya lumayan lengkap sih. Gimana dong?

8. ATM Mandiri

Pernah ada masa sebagian besar anak kampus punya rekening Mandiri dan ATM di dekat pos satpam depan TLC ini mengakibatkan antrian panjang. Ah, kenangan mengantri itu…

9. Puja Wifi Ngebut

Pernah pula ada suatu masa koneksi internet di kampus ngebutnya gak main-main.

Saya pernah dapat sampai 8 MBps, paling apes 600 Kbps. Pada masa-masa indah itu, para leecher menjadi-jadi. Apa aja diunduh, barang nggak penting sekalipun.

Yang keterlaluan, beberapa bahkan tega memutus koneksi yang lain. Dan akhirnya masa kejayaan itu hanya berlangsung selama beberapa bulan karena satu dan lain hal.

10. Maket?

Ada maket bangunan gedung di Dayeuh Kolot, diletakkan di bawah tangga. Nggak tahu deh kalian tanda sama benda satu ini atau tidak. Dasarnya emang kurang penting juga sih buat skripsi kita.

11. Ayam Cibarengkok

Ayam goreng tepung ini adalah fenomena ketika pertama kali muncul pada 2011 di Gerlong Girang. Harganya cuma Rp 3.500 atau Rp 5.000 kalau sama nasi. Sangat murah dan rasanya bolehlah ditandingkan dengan Sabana, walaupun ukurannya lebih kecil.

Kalau malam, siap-siap aja saingan sama anak UPI yang juga suka beli di sini.

Buat yang suka nasi porsi besar, biasanya cuma beli ayam terus nasinya beli di warteg. Kecerdikan mahasiswa memang tak boleh diremehkan.

12. Sari Bundo

“Ke Sarbun yuk!”

Barangkali rumah makan Padang paling sedap di sekitaran Gerlong.

Umumnya mahasiswa ke sini pada awal bulan karena harganya tergolong lumayan mahal buat jangkauan finansial sebagian banyak kaum anak kost.

Kadang ada juga sih yang ke sini karena kalah taruhan dan terpaksa nraktir temen. Elus-elus dompet.

13. Sate Ayam Dekat UPI

Letaknya di depan Alfamart Gerlong Girang, sampingnya warteg. Sejauh pengembaraan, rasanya inilah sate ayam paling oke. Udah gak paham lagi kenapa bisa enak banget.

14. Mangakisha

Persewaan komik dan novel. Lokasinya ada di depan Enhaii. Koleksinya cukup lengkap dan yang jaga juga ramah. Dibawa pulang boleh, dibaca di tempat bayar separuh (tapi kalau udah kenal mah baca aja gak pakai bayar, hahaha).

Yang sering ke sini tuh anak IMT, Enhaii, dan beberapa anak SMP-SMA.

Terkadang lebih bijaksana baca di tempat kalau ada anak Enhaii nongkrong lama di mari. Well, you know what I mean.

15. Daarut Tauhid

Hidup itu harus imbang. Ada yang bandel, ada yang relijius. Cari kawan yang relijius dan tempat belajar Islam? Salah satu rujukannya ya di sini selain ke Salman ITB yang agak jauh dan berbau modus.

Kenapa DT? Mungkin karena sosok Aa Gym masih karismatik.

Tapi secara keseluruhan tempat ini memang oke buat yang ingin mendalami ilmu agama lebih lanjut. Udah biasa banget lihat orang-orang bergamis dan rok panjang seliweran di sini.

Diselingi beberapa orang yang melintas cuma berbekal kaos dan celana pendek. Perbedaan itu indah kawan.

16. Keyboard, Mouse, CPU, dan OHP

Tahun 2008, laptop sudah bukan barang mewah dan infocus (harusnya sih disebut proyektor) juga lazim dipakai.

Tapi pada tahun itu, di beberapa ruang kelas masih bisa ditemui OHP, keyboard, CPU, dan mouse. Entah apa faedahnya karena dosen selalu membawa laptop sendiri.

Selang beberapa waktu keyboard dan mouse mulai tak terlihat. Entah disimpan oleh kampus atau ‘dipinjam’ mahasiswa agar lebih bermanfaat. OHP bertahan lebih lama. Mungkin buat nostalgia.

17. Gembul

Rujukan nomor satu para pemburu roti bakar dan indomie. Enak banget sih enggak, tapi variannya banyak. Mau keju ada, coklat susu ada, kornet aya. Sok, milih. Tempat ini juga asyik buat nongkrong (tapi kayanya mahasiswa mah nongkrong di mana aja hayu). Di Gembul-lah saya pertama kali menemukan bubur kacang ijo tanpa santan. Habisnya di Jawa pasti dipakaiin santan sih.

18. Baso Hejo

Yang jual biasa dipanggil Mang Hejo, padahal dia jawa tulen, bukan sunda. Dunia ini memang penuh sandiwara. Biasa mangkal depan parkiran motor, tepat di depan warung kelontong. Sangat strategis dan simbiosis mutualisme. Haus selepas makan bisa langsung ambil minuman di warung. Lapak Mang Hejo paling ramai pas jam istirahat siang. Padahal ya panas-panas gitu kok malah makan baso ya?

19. Fotokopi Depan TLC

Life saver. Penyelamat hidup. Coba hitung, sudah berapa kali dapat petunjuk soal ujian dari sini? Ngopi catatan temen kampus lain? Ngopi slide dosen? Bohong deh kalau nggak pernah sama sekali. Tapi pernah juga ada kasus gegara kisi-kisi yang (katanya) diwahyukan ke fotokopian ini. Alhasil satu angkatan wajib ujian ulang.

20. Ikan Bakar Gerlong Tengah

Niagara termasuk jempolan rasanya, tapi buat sebagian mahasiswa harganya kurang bersahabat. Terima kasih kepada ibu-ibu yang membuka warung ikan bakar di Gerlong Tengah mulai sore hari. Ada lele, patin, gurame, cumi-cumi, kakap, sampai bayi hiu 🙁

Dibandingkan Niagara, harganya lebih murah 20-30 persen. Pas buat mereka yang memandang uang Rp 10.000 sebagai tiket makan malam.

21. Donat Soleh

Jangan mikir donatnya rajin sembahyang ya. Just another life saver. Kalau sekarang lapar dikasih Sn*cker, dulu donat Soleh rujukannya, terutama mereka yang kuliah pagi. Belum sempat sarapan ya cukup beli donatnya Mas Soleh, anak MBTI 2007. Lumayan buat ganjel perut. Mau yang isi blueberry, strawberry, durian, atau coklat? Tapi kalau nggak suka donat, ada risoles juga.

Kelihatannya sih remeh ya, tapi dari jualan ini Mas Soleh bisa dapat laba bersih Rp 100.000 sehari. Lebih dari lumayan buat ukuran mahasiswa.

22. Sarapan di KPAD

Tiap pagi di dekat lapangan tenis KPAD pasti ramai. Ada penjual ketoprak, bubur ayam, soto ayam, nasi uduk, kupat tahu, dan nasi pepes ngumpul di sana. Semua menu yang ada sedapnya di atas rata-rata, jadi nggak heran kalau selalu ramai.

Beberapa teman sangat menyukai nasi uduk dan ketoprak, tapi nasi pepesnya jangan diremehkan. Menyusul kemudian ada yang jualan pempek. Orangnya asli Palembang. Sejauh ini, pempek mereka masih yang paling oke yang bisa ditemukan di sekitar Gerlong.

23. KANTIN 52

Rasanya benar-benar seperti di rumah kalau makan di sini. Bu Asih membuka warung di teras rumah dengan menu yang rumahan banget. Saya sempat bikin laman Facebook Kantin 52, jadi tahu banget Bu Asih hari itu masak apa, hehehe. Kangen ayam goreng serundeng? Atau ayam semur? Kantin 52 juga punya papan testimoni. Bebas mau nulis apa aja. Bilang makanannya enak, saran buat menu besok, kasih selamat teman yang wisuda, atau majang nomer hape, kali aja ada yang nelpon. Ngenes.

Sambil makan, juga bisa baca koran PR dan disuguhi lagu-lagu jazz. Kadang ada juga yang makan di ayunan. Mau nengok Bu Asih masak juga mangga. Bikin homesick atulah.

Sayangnya Kantin 52 sudah tinggal nama saja. Karena perkuliahan S1 dipindah ke Dayeuh Kolot dan Jalan Pak Gatot IV diportal, jadinya Kantin 52 sepi pisan dan terpaksa tutup. Kzl.

Kampus Gegerkalong memang mungil, masuk gang, dan namanya juga belum bisa dibilang populer di Indonesia. Toh sekarang kalian pasti tidak bisa melupakan kenangan semasa di sana. Entah itu saat lalarian di tangga, ngerokok di tangga darurat, ataupun ngupil bareng di suatu tempat yang kamu dan temanmu tahu.

Kata Obbie Messakh sih gini,

“Masa-masa paling indah…. masa-masa di Gegerkalong” ©Shesar_Andri

Jakarta, 16 November 2014

Artikel ini merupakan artikel kiriman dari salah satu Alumni IM Telkom MBTI 2008 : Shesar Andriawan. Kini yang bersangkutan berprofesi sebagai jurnalis di Jakarta.

Sumber : Foto Profil Facebook

Sumber : Foto Profil Facebook

IM Telkom sendiri sekarang sudah bergabung menjadi bagian dari Telkom University. IM Telkom kini lebih dikenal dengan sebutan Telkom Economics and Business School. 

Info lebih lanjut mengenai Telkom Economics and Business School dapat dilihat pada tautan berikut.

(SHR/NN)

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *