Mengenal R.A. Kartini Sebagai Sosok Pejuang Emansipasi Wanita

Bandung, Students Tel-U – Siapa yang tidak tahu R.A. Kartini? Ia adalah sosok wanita cerdas dan tangguh yang memperjuangkan emansipasi wanita. Sejak kecil, ia merasa tidak bebas untuk menentukan pilihan dan juga merasa diperlakukan berbeda dengan saudara maupun teman-teman prianya karena terlahir sebagai seorang wanita. Berkaca dari pengalaman hidupnya sebagai perempuan Jawa di masa itu, R.A. Kartini begitu mengidamkan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Ia tak sependapat dengan budaya turun temurun yang melazimkan seorang perempuan hanya pasif melakoni alur kehidupan. Hal tersebut menumbuhkan keinginan dan tekad di dalam hati Kartini untuk menjadikan para wanita di Indonesia juga mempunyai persamaan derajat yang sama dengan laki-laki.

Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang dibacanya, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir para perempuan Eropa. Oleh sebab itulah, timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi yang memiliki status sosial yang rendah salah satunya karena pendidikan yang terbatas. Maka dari itu atas kegigihan dan tekadnya ia mendirikan sekolah gratis untuk anak perempuan di Jepara dan Rembang. Sekolah gratis tersebut mengajarkan menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Sekolah gratis yang didirikan oleh Kartini tersebut kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini pada tahun 1912 di Semarang dan menyusul di berbagai tempat lain, seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon. Perjuangan dan tekad Kartini untuk menyamakan derajat kaum wanita dengan kaum pria telah membuahkan hasil, yaitu dibuktikan dengan berkembangnya sekolah-sekolah untuk wanita.

Semasa hidupnya, Kartini sering menulis surat-surat yang ditujukan kepada para sahabatnya di Belanda, yang berisi tentang keinginan Kartini untuk melepaskan kaum wanita di Indonesia dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Kumpulan surat-surat itu, kemudian dijadikan buku yang berjudul Door Duistermis tox Licht, “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang diterbitkan pada 1911. Beberapa kutipan yang berasal dari buku tersebut seperti:

“Tahukah engkau semboyanku? “Aku mau!” Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung.

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. kehidupan manusia serupa alam” (Kartini – Habis Gelap Terbitlah Terang). 

 

Menghargai jasa para pahlawan bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya mengetahui apa yang mereka lakukan untuk bangsa ini dan terus menjaga semangat tersebut. R.A Kartini telah meninggalkan pesan kepada kita tentang keberanian untuk mencapai suatu titik ‘terang’ dalam kehidupan.

Keyword(s) : , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *