Kisah Interview Seorang Calon Karyawan | Based on Internship Experience

Bimantoro Kushari

MBTI 2011

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Bu Nia : Silahkan gambarkan diri anda
X : nama saya X, saya kuliah di kampus X jurusan Manajemen. Saya orangnya mudah bergaul dan sudah sering berkomunikasi dengan banyak orang.
Bu Nia : okey X, pertanyaan pertama saya adalah, kamu di kampus ikut komunitas, organisasi atau perkumpulan apa?
X : waduh kebetulan gak pernah ikut apa apa bu. Da aku mah fokus kuliah aja bu.
Bu Nia : oh ya,  statement anda tadi wajib saya pertanyakan. Katanya anda mudah bergaul. Gimana sih cara bergaul anda?
X : saya ngbrol biasa aja bu sama teman teman saya. Curhat dan nongkrong sih bu seringnya.

Perbincangan di atas merupakan salah satu bentuk pertanyaan wawancara kerja di perusahaan tempat saya Magang. Kebetulan pada hari itu saya yang magang di Divisi SDM mendapat kesempatan untuk ikut dalam proses wawancara (bahkan menjadi pewawancara) calon karyawan. Kebetulan Bu Nia sendiri yang meminta saya untuk ikut mewawancara. For your information Bu Nia adalah Manajer SDM di perusahaan itu. Sedangkan X adalah calon karyawan dengan pertanyaan paling sedikit di banding calon lainnya. Penasaran menyelimuti benak saya terkait X yang terlalu singkat di wawancarai. Akhirnya saya pun bertanya dengan Bu Nia.

Saya : Bu kenapa dia cepet banget diinterviewnya?
Bu Nia : Gak tertarik saya dengan orang seperti itu. Ga ada Nilai jualnya. Ga menarik untuk dikulik…
Saya : Memang yang menarik untuk diwawancara itu seperti apa bu?
Bu Nia : punya pengalaman mengelola Organisasi. Coba liat pertanyaan pertama saya deh. “Kamu pernah ikut Organisasi, Komunitas, atau perkumpulan di kampus?”. Orang yang punya pengalaman itulah yang punya nilai jual. Perusahaan manapun pasti suka.

Percakapan saya dengan Bu Nia membuka mata saya bahwa pengalaman Organisasi adalah harta jangka panjang bagi mahasiswa. Mereka yang aktif akan merasakan manfaatnya di masa depan. Nilai lebih yang mereka miliki akibat Organisasi akan mengantarkan mereka ke gerbang emas kesuksesan.

Lalu bagaimana dampak bagi mereka yang apatis? Sulit dibayangkan, jangankan untuk mendapat pekerjaan, perusahaan saja tidak tertarik mewawancara mereka. Mungkin ada sedikit pembelaan dari ‘sang Apatis’ saat membaca artikel ini. ” Okey kalau begitu saya akan membuka lapangan pekerjaan sendiri” ujar mereka sang kaum Apatis. Padahal membuat lapangan pekerjaan tidak hanya butuh modal, melainkan skill mengelola Organisasi yang profit oriented.

Kampus adalah rumah kedua dimana segala sesuatu menyangkut minat dan bakat tersedia di sini. Mau bukti? Oke mari kita buktikan.

Hobi Olahraga = Gabung UKM bola, volley, basket dll

Hobi Musik = Gabung UKM Band, Choir, atau bengkel seni

Hobi Naik Gunung : Gabung Pecinta Alam

Minat di Sospol :Gabung BEM, DPM, atau organ ekstra kampus lainnya.

Minat di Jurnalis : Gabung Media kampus

Minat bisnis : Gabung perkumpulan pengusaha muda

Tidak ada alasan untuk apatis bagi mahasiswa. Segala sesuatu terkait minat dan bakat sudah terwadahi oleh Organisasi mahasiswa. Akan sangat disayangkan jika ijazah yang akan kita dapatkan malah tidak laku marena ke apatisan kita.

Pilihan ada pada kita semua. Ingin menjadi Manusia sukses atau menjadi si X yang merana akibat tak laku ijazahnya.

Pesan terkahir dari saya …

Semua orang bisa lulus kuliah. Semua orang bisa cumlaude. Tapi tidak semua orang bisa lulus kuliah dengan menyelesaikan Organisasi dengan baik.- Bimantoro Kushari | Mahasiswa Telkom University

Selamat mencoba berorganisasi!  🙂

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *