Jeritan Mahasiswa dalam Bungkam

Bandung, Students Tel-U—Kembali bergulirnya permasalahan yang terjadi di kalangan mahasiswa sebuah universitas seakan sudah menjadi wacana publik. Isu pelecehan seksual seolah tak berhenti berputar mengelilingi kehidupan kampus. Tak hanya diimbaskan kepada pihak universitas dan lingkungan sekitar, kehidupan kampus secara umum pun menjadi pertanyaan yang sesungguhnya. Atas dasar nama baik, para penyintas tidak berani membuka suara mereka. Dan yang terjadi selalu, pelaku semakin berkeliaran, trauma mendalam menghantui para korban. Lantas, dengan kembali bergulirnya permasalahan ini, apakah ada yang berani bergerak untuk menyuarakannya?

Realitanya tak semudah itu. Luka lama yang terjadi tetaplah membekas. Entah sudah setahun berlalu, 2 tahun berlalu, puluhan tahun lalu pun, nyatanya berdiri tegar seolah tidak terjadi apa-apa akan terasa sulit. Keberanian untuk mengungkapkannya saja dibutuhkan mental yang kuat. Memiliki lingkup pergaulan sekaligus menjadi korban dalam sebuah kasus tentu bukan hal yang mudah untuk diperlihatkan. Perbincangan yang tak kenal arah menjadi problematik sesungguhnya. Sebuah kasus sejatinya bukan untuk dibicarakan, tetapi untuk diselesaikan. Menjadi korban bukanlah sebuah pilihan, dan akhirnya hanya akan menjadi sebuah tontonan.

Sebenarnya dalam Data Perempuan Mahardhika di tahun 2015 menyebut 20 kampus utama di Pulau Jawa tidak memiliki mekanisme penanganan yang sistematis untuk merespon pelecehan maupun kekerasan seksual. Sebuah lembaga besar terutama universitas digadang akan menyembuyikannya serapat mungkin demi menjaga nama baik. Menurut Masruchah, Komisioner Komnas Perempuan, penting bagi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikti) untuk menetapkan bahwa setiap universitas harus memiliki prosedur untuk kasus kekerasan seksual. (bbc.com)

Tanggungjawab ini tentu bukan hanya tentang korban yang berusaha melindungi identitas dan dirinya sendiri. Walaupun kebebasan berpendapat sudah jelas tertera dan menjadi hak seluruh rakyat. Tapi, apakah sudah terjadi? Jika iya, pasti sedikit banyak kasus sudah mendapat titik terang. Sayangnya, respon yang terjadi tentu tidaklah sesuai ekspektasi. Dengan adanya hal ini yang diharapkan tentu sudah jelas, perlakuan yang adil bagi si pelaku.

Kehidupan keras yang dialami mahasiswa kini bukan hanya soal tugas dosen yang diberikan ke mahasiswa, mengikuti sebuah kepanitiaan atau mendidik adik tingkatnya. Hidup bersosialiasasi antar mahasiswa masih harus disadarkan tentang bagaimana menjalani kehidupan mahasiswa yang hendaknya dijalani dengan sebagaimana mestinya. Mahasiswa sejatinya adalah generasi penerus bangsa, jika kasus seperti ini terus menerus mencuat tanpa ada respon positif, mau tidak mau konsekuensi akan bobroknya generasi penerus akan dihadapi oleh bangsa ini. (adg)

Keyword(s) : , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *