Ditemani Orang Tua di Awal Masa Kuliah, Masih Perlu?

Ditemani Orang Tua di Awal Masa Kuliah. Masih Perlu?

Awal masa kuliah adalah masa yang berat bagi anda-anda sekalian wahai mahasiswa Baru (Maba). Mengapa? Semuanya akan dimulai dari 0. Anda harus menata kehidupan anda sendiri. Mulai dari mempersiapkan tempat tinggal di tanah rantau, perabotan pribadi, dan mempersiapkan diri untuk mengikuti orientasi mahasiswa baru (OMB). Belum lagi kondisi sosial budaya yang berbeda dengan kampung halaman.

Khusus untuk orientasi mahasiswa baru, kemungkinan berbagai tugas akan menanti anda. Bukan tugas biasa. Tugas-tugas yang akan diberikan biasanya berhubungan dengan peralatan-peralatan yang harus dibeli di pusat kota. Celakalah kalian yang tidak punya skill survival.

Untuk urusan perut, anda akan sangat mengalami kesulitan. Anda tidak tahu tempat dimana tempat makan yang murah dan sesuai dengan lidah anda. Belum lagi kalau uang bulanan tak kunjung tiba. Tidak seperti di rumah, dimana setiap jam makan tiba, makanan sudah siap tersedia dengan kelezatan khas masakan ibunda.

Di tanah rantau, anda akan sulit untuk hidup. Hmm tidak. Anda akan sangat sangat sangat sulit untuk hidup. Saya tidak bercanda.

Kampus akan penuh dengan Mobil-mobil dari luar Bandung.

Begitulah kondisi di awal masa perkuliahan yang saya temui selama hampir 4 tahun berkuliah di Universitas Telkom. Memang, kehadiran orang tua adalah candu penenang rasa khawatir maba-miba yang berasal dari luar Bandung. Terkadang para orang tua sampai menginap di mobil masing-masing karena saking cinta terhadap anaknya.

Butuh perabotan di kamar kost/asrama? Tinggal telpon mama

Butuh kendaraan untuk membeli alat-alat OMB? Tinggal bilang papa

Semuanya serba mudah kalau ada orang tua. Anda akan merasa tenang dan nyaman. Anda mempunyai malaikat pelindung yang siap membantu saat anda kesusahan.

Namun…..

Kuliah di Tanah Rantau adalah untuk belajar hidup! Hiduplah secara bersama sama.

Kerjakan secara bersama-sama. Cobalah berkenalan dengan lingkungan baru. Bentuk perkumpulan teman yang baru. Bukankah sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama akan lebih mudah daripada dilakukan sendiri-sendiri?

4 tahun lalu saat daftar ulang di Institut Manajemen Telkom (sekarang Universitas Telkom), saya dan teman-teman seangkatan dilarang ditemani oleh orang tua. Bahkan pada waktu itu, orang tua yang masuk ke gedung untuk membantu anaknya daftar ulang, sampai diingatkan oleh panitia agar meninggalkan area daftar ulang. Semua itu dilakukan agar para mahasiswa baru dapat hidup mandiri sejak awal.

Dengan paksaan untuk hidup mandiri ini, kami harus saling membantu satu sama lain (antar maba-miba). Kami membentuk keluarga baru sejak dini. Keluarga yang terbentuk atas dasar persamaan nasib sebagai perantau. Meskipun ada juga yang berkumpul hanya dengan maba-miba yang sekampung halaman atau se-SMA. But, no problem. Yang penting bersosialisasi.

Waktu itu banyak sekali maba-miba yang membeli perabotan bersama-sama. Mereka patungan menyewa mobil pick up untuk mengangkut barang. Individualisme tidak terlihat. Anak SMA telah berubah menjadi mahasiswa dan perantau sejati. Membeli barang kebutuhan OMB pun kami bersama-sama. Terasa lebih mudah. Susah dan senang dapat dinikmati bersama sama.

Orang tua yang selalu menemani adalah wujud kasih sayang yang mendalam bagi anak-anaknya. Saya yakin, kecintaan orang tua terhadap anaknya digambarkan dengan cara yang berbeda-beda. Ingat, sekarang anda adalah mahasiswa. Anda harus belajar hidup.

Jalani hidup dengan mandiri. Jangan malu untuk bersosialisasi. Bantulah teman seperantauan ketika susah dan berbagi kebahagiaanlah saat anda sedang berlebih.

Selamat datang mahasiswa baru. Selamat merantau di tanah Padjajaran.

Ditulis oleh : Bimantoro Kushari

Twitter : @bimantorokshr

Facebook : Bimantoro Kushari

Cover Gambar : Mfc

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *