Derita Perempuan : Perlindungannya Kerap Dikesampingkan

Kasus kekerasan terhadap perempuan masih menjadi catatan besar bagi Indonesia. Kasus kekerasan terhadap perempuan membuat kita sebagai masyarakat Indonesia harus terus memperhatikan perkembangannya, terlebih lagi dengan peningkatan yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Hal inilah yang harus dipantau agar bukan perkembangan dalam keadaan buruk yang terjadi, tetapi penurunan kasus kekerasan terhadap perempuan.

Berdasarkan data dari CATAHU (Catatan Tahunan) Komnas Perempuan 2019, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan—baik fisik maupun seksual—di tahun 2014 menunjukkan angka 293.220, lalu di tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 321.752 kasus. Di tahun 2016 sempat mengalami penurunan menjadi 259.150 kasus, tetapi meningkat lagi di tahun berikutnya menjadi 348.446 kasus. Dan di tahun 2018 mengalami peningkatan yang paling signifikan, yakni terjadi 406.178 kasus.

Berdasarkan temuan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) terdapat 15 (lima belas) bentuk kekerasan seksual yang juga menjadi bagian dari kampanye penghapusan kekerasan seksual, Kelima belas bentuk kekerasan seksual ini bukanlah daftar final, karena ada kemungkinan sejumlah bentuk kekerasan seksual yang belum dikenali akibat keterbatasan informasi mengenainya, diantaranya:

  • Perkosaan
  • Intimidasi Seksual (ancaman/percobaan perkosaan)
  • Pelecehan Seksual
  • Eksploitasi Seksual
  • Perdagangan Perempuan Tujuan Seksual
  • Perbudakan Seksual
  • Pemaksaan Perkawinan (termasuk cerai gantung)
  • Pemaksaan Kehamilan
  • Pemaksaan Aborsi
  • Pemaksaan Kontrasepsi dan Sterilisasi
  • Penghukuman tidak Manusiawi dan Bernuasa Seksual
  • Praktik/tradisi Bernuasa Seksual Membahayakan/Mendiskriminasi Perempuan
  • Penyiksaan Seksual
  • Kontrol Seksual

Sebenarnya segala macam bentuk dan jenis kekerasan terhadap perempuan harus diketahui oleh segenap pihak, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, orangtua, lanjut usia, laki-laki atau perempuan, semua golongan harus mengetahui mengetahuinya sebab tidak mudah bagi perempuan melawan kekerasan yang dialami jika hanya berjuang sendirian. Bukan hanya bagi mereka yang berpeluang untuk menjadi target korban, bentuk dan jenis kekerasan ini harus diketahui dasarnya agar jika terjadi kasus. Tidak hanya diketahui oleh pelaku dan korban, jika terdapat saksi di tempat kejadian yang menyaksikan kasus tersebut, saksi dapat memberikan keterangan yang mendukung pernyataan korban tentang segala bentuk atau jenis kekerasan yang terjadi.

Untuk mengatasi perkembangan kasus yang terus menerus terjadi, ada beberapa kebijakan dan strategi yang dapat dilakukan, misalnya:

  • Memperkuat perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan,
  • Meningkatkan kapasitas kelembagaan perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan dan perlakuan salah lain,
  • Pelibatan pemerintah daerah dalam pelaksanaan bantuan hukum,
  • Pelaksanaan sosialisasi dan penguatan konstitusi penyelenggara bantuan hukum

Tidak hanya itu, jika ingin mengadukan kasus kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan dan ingin berpartisipasi dalam melakukan perlindungan terhadap anak-anak dan perempuan terdapat 3 (tiga) jalur pengaduan, yakni (1) Hotline Pengaduan, (2) Datang langsung ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau Komnas Perempuan, dan (3) Rujukan seseorang. Karena dari tindakan kecil apapun yang kita lakukan, tanpa disadari akan memberi pengaruh besar terhadap seseorang yang lebih membutuhkan. (adg)

Keyword(s) : , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *