CLO, Apa Itu?

Bandung, Students Tel-U – Course Learning Outcome (disingkat CLO) merupakan Outcome Based Education berbasiskan pada Standar Akreditasi Internasional IABEE (Indonesian Accreditation Board for Engineering Education). Saat ini, CLO telah resmi diterapkan di Prodi S1 Teknik Telekomunikasi sejak semester ganji TA 2016/2017.

Jadi bagaimana sebenarnya bentuk penerapan sistem CLO ini dalam perkuliahan?

Dalam sistem CLO, suatu mata kuliah akan terbagi-bagi menjadi beberapa CLO. Misalnya, dalam mata kuliah Sistem Komunikasi terbagi dalam 5 CLO, yaitu :

  • CLO 1 : Mampu memahami & menjelaskan sistem telekomunikasi & karakteristiknya
  • CLO 2 : Mampu memahami & menjelaskan parameter kinerja sistem komunikasi
  • CLO 3 : Mampu memahami & menjelaskan karakteristik modulasi & demodulasi AM/PM
  • CLO 4 : Mampu memahami & menjelaskan sistem komunikasi digital & karakteristiknya
  • CLO 5 : Mampu melakukan indentifikasi kinerja sub-sistem

Banyaknya CLO pada setiap mata kuliah ini beragam, ada yang hanya tiga, ada juga yang sampai 6 CLO. Jika pada sebelum sistem CLO ini diterapkan seringkali mahasiswa mendapati dosen berkata, “besok kita kuis, materinya Bab 1 sampai Bab 3, ” maka pada sistem CLO ini yang akan didengar mahasiswa adalah “besok kita kuis, materinya CLO 1 dan CLO 2. Begitu juga pada pelaksanaan UTS dan UAS.

Lalu perbedaan antara sistem CLO dan sistem akademik sebelumnya juga terasa pada pelaksanaan UTS maupun UAS, yaitu penambahan bobot soal. Jika misalnya,  mahasiswa hanya mengerjakan lima soal untuk UTS mata kuliah A. Maka, pada sistem CLO mahasiswa akan dihadapkan pada 12 soal yang terdiri atas 3 soal dari CLO 1, 3 soal dari CLO 2, dan 6 soal dari CLO 3. Akan tetapi hal ini tidak selalu mutlak terjadi demikian, tergantung pada kebijakan koordinator mata kuliah yang bersangkutan.

Setiap mahasiswa dituntut untuk lulus pada setiap CLO yang diujikan. Jika pada salah satu CLO yang diujikan mahasiswa tidak dinyatakan lulus, maka akan dipersilakan untuk mengikuti remedial. Bentuk dari remedial ini biasanya disesuaikan dengan kebijakan dosen mata kuliah yang bersangkutan. Ada yang memberi tugas, melaksanakan ujian remedial, atau melakukan presentasi terkait materi kuliah. Beberapa dosen menerapkan kebijakan Remedial II untuk mahasiswa yang tidak lulus pada Remedial I. Namun, biasanya nilai maksimum yang dapat dicapai pada Remedial II hanya 51.

Lalu, jika pada akhirnya mahasiswa hanya dapat lulus empat dari lima CLO yang ada, maka selanjutnya lulus atau tidaknya mahasiswa tersebut bergantung pada kebijakan dosen mata kuliah yang bersangkutan. Pada beberapa dosen, jika kasus seperti ini terjadi maka mahasiswa yang bersangkutan akan langsung dinyatakan tidak lulus (mendapat nilai E), ada juga dosen yang akan menjumlahkan ‘apa adanya’ nilai mahasiswa tersebut sesuai bobot per-CLO nya. Dalam hal ini, mahasiswa tersebut masih dapat lulus jika nilai CLO lainnya dalam kondisi aman.

Pada Prodi S1 Teknik Telekomunikasi, nilai kelulusan per-CLO ini berbeda-beda sesuai kebijakan dosen yang bersangkutan, juga dinilai bersadarkan tingkat kesulitan mata kuliah yang diambil. Ada yang menerapkan nilai 50 sebagai nilai kelulusan, ada juga yang menerapkan nilai 70.

Penerapan CLO ini dinilai sebagai wujud nyata dalam langkah awal World Class University. Setelah Prodi S1 Teknik Telekomunikasi, selanjutnya CLO ini dikabarkan akan diterapkan juga pada Prodi S1 Teknik Informatika. Tidak menutup kemungkinan prodi lainnya juga akan menerapkan sistem CLO dalam perkuliahan, atau mengadopsi sistem sejenis. (arp)

Keyword(s) :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *