Berhenti Mencontek! Saatnya Memberikan Penghargaan Pada Ilmu Pengetahuan

Bandung, Students Tel-U – Bagi sebagian orang, mencontek sudah menjadi budaya yang mendarah daging. Sama seperti pecandu rokok, resolusi untuk berhenti mencontek tidak mampu dipertahankan dalam jangka waktu yang lama. Ide kreatif untuk mencontek selalu lebih gaduh menggoda iman. Krisis percaya diri menjadi bibit yang sulit ditumbuhkan kembali. Lalu, bagi kamu yang ingin sembuh dari kebiasaan buruk ini, adakah cara yang efektif untuk merealisasikannya?

Budaya mencontek berasal dari budaya belajar orang Indonesia yang masih menjadikan nilai akademis sebagai orientasi utama. Presepsi bahwa nilai akademis adalah jembatan menuju jenjang karir yang baik, membuat mahasiswa justru menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya tersebut. Padahal ujian merupakan proses belajar yang mesti ditempuh dengan baik, agar seseorang berkembang menjadi pribadi terdidik.

Di Telkom University, mahasiswa yang ;

  1. Memalsukan surat keterangan sakit / surat pernyataan orang tua,
  2. Memalsukan tanda tangan dosen,
  3. Melakukan kecurangan dalam ujian,
  4. Memalsukan dan menjiplak hasil karya akdemik

akan dikenakan sanksi yang cukup berat karena hal tersebut merupakan pelanggaran yang telah ditetapkan dalam Kode Etik Mahasiswa Universitas Telkom KR. 069/ORG22/REK.O/2014

Oleh karena itu, agar tercipta lingkungan ujian yang bersih dan terbebas dari pelanggaran tersebut, kita perlu menanamkan itikad baik saat ujian nanti, salah satunya mengubah persepsi soal orientasi ujian dan berusaha untuk mempersiapkan ujian dengan persiapan yang matang. Karena persiapan yang matang akan menumbuhkan rasa percaya pada kemampuan diri sendiri. Selain itu, kru students juga memiliki tips yang bisa kamu terapkan, ketika kamu berusaha untuk keluar dari kebiasaaan mencotek. Berikut tipsnya :

1. Kenali Gaya Belajarmu
Tahap awal untuk mulai mandiri dalam ujian adalah mengetahui cara nyaman dalam belajar. Salah satunya dengan mengenali gaya belajar. Mengenali gaya belajar bisa meringankan kamu untuk memahami mata kuliah lebih mudah, karena dengan mengetahui salah satu gaya belajar dari gaya visual, audio dan kinestik akan membuat kamu lebih memfokuskan cara belajar seperti apa yang efektif untuk diterapkan saat belajar menjelang ujian.

2. Perhatikan Penjelasan Dosen di Kelas, Jangan Mencatat!
Mencatat dengan menulis adalah dua hal yang berbeda. Mencatat adalah menyalin sama persis dengan apa yang dosen tulis atau tampilkan di slide, sedangkan menulis adalah menginterpretasikan kembali apa-apa yang telah dipahami ketika dosen telah selesai menjelaskan materi. Jika fokusmu teralihkan oleh mencatat saat dosen menerangkan, maka kamu dalam kerugian.

3. Punya Rangkuman Menarik
Membuat rangkuman yang menarik akan meningkatkan keinginan untuk belajar lebih giat. Kamu bisa membuat mind map atau membuat rangkuman dengan cara kreatifmu.

4. Perbanyak Referensi, Jangan Terpaku Pada Slide
Banyak mahasiswa yang merasa kapok “belajar”, karena apa-apa yang dipelajari dari kisi-kisi atau slide pemberian dosen tidak muncul saat ujian. Merasa dikecewakan, niat mencontek muncul kembali. Sebaiknya jangan! Sebelum mengalami hal tidak menyenangkan ini, luangkan waktumu untuk belajar materi lebih dari apa yang telah diberikan di kelas. Kunjungi Open Library untuk memperluas wawasanmu terhadap matkul yang akan diujikan.

5. Kuatkan Tekad, Nikmati Proses Ujian
Untuk last statement, mengutip dari Fanny Rofalina, Editor blog Zenius Education, “Life is never about the goals themselves. Life is about the journey. Dan sebagai seorang pelajar, perjalanan itu sudah sepantasnya adalah “bercinta” dengan pengetahuan itu sendiri. Sehingga kepuasan belajar dan bersekolah tidak sekedar buat cari nilai dan mendapatkan sertifikasi kelulusan, tapi kepuasan belajar sesungguhnya adalah ketika kita bisa mempelajari pengetahuan sebanyak mungkin yang didorong dengan rasa ingin tahu dan penghargaan pada ilmu pengetahuan itu sendiri.”

Jadi masih ingin mencontek? Think Again! (AUL)

Keyword(s) : , , , , ,

Komentar

  • dzulnafis

    menyontek jga merupakan akibat dri disorientasi sistem pendidikan di Indonesia dan itu udh jdi budaya bahkan tertanam dalam diri pengajarnya pula. meskipun ujian itu sebagai bahan evaluasi pembelajaran tpi kenyataannya beberapa tahun yg lalu jdi standar kenaikan kelas dan standar kelulusan sekolah , dampaknya masih terasa sampe skrg. so saran saya kampanye yg tepat itu mengenai ujian adalah bahan evaluasi bukan dan bukan merupakan standar kenaikan tingkat. kalian merasakan sendiri to waktu sd sampe smp dituntut hrus dpet nilai sekian spaya bisa lulus atau naik kelas. bahkan untuk masuk ke jenjang yg tinggi bisa menggunakan nilai ujian meskipun ada jga yg pke tes.

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *